BUDIDAYA IKAN BAWAL AIR TAWAR 19 Mei 2009
Posted by hasanalbana in Tak Berkategori.add a comment
Bawal air tawar (Colossoma Macropomum) Sebutan lain ikan bawal adalah Gamitama (Peru), Cachama (Venezuala), Red Bally Pacu (Amerika Serikat dan Inggris). Sedangkan di negara asalnya disebut Tambaqul. BIOLOGI - Genus Chacacoid dan species Colossoma macropomum. - Badan ikan bawal agak bulat, bentuk tubuh pipih, sisik kecil, kepala hampir bulat, lubang hidung agak besar, sirip dada dibawah tutup insang, sisip perut dan sirip dubur terpisah, punggung berwarna abu-abu tua, perut putih abu-abu dan merah. - Ikan ikan ini banyak ditemukan di subgai - sungai besar seperti Amazon (Brazil), Orinoco (Venuzuela). Hidup secara bergerombolan di daerah yang airnya tenang. -termasuk ikan karnivora, giginya tajam . Makanan yang disukai pada vase larva adalah Brachionus sp., Artemia sp., Moina sp. - pada umur 4 tahun induk bawal sudah dapat dipijahkan bila pertumbuhannya normal dapat mencapai berat 4 kg. - Pemijahan terjadi pada musim penghujan. PEMBENIHAN A. Pemeliharaan Induk - Induk-induk dipelihara dikolam dengan kepadatan 0,5 kg/m2. Setiap hari diberi pakan tambahan berupa pellet sebanyak 3% dari berat tubuh ikan dan diberikanan 3 s/d 4 kali per hari. Menjelang musim hujan jumlah pakannya ditambah menjadi 4%. Induk betina yang beratnya 4 kg dapat menghasilkan telur sebanyak ± 400.000 butir. - Tanda induk yang matang gonad. Betina : perut buncit, lembek dan lubang kelamin kemerahan. Jantan : perut langsing, warnah merah dalam tubuhnya lebih jelas. B. Pemijahan o Pemijahan bawal baru bisa dilakukan secara Induced Spawning, untuk betina dengan menyuntikan hormon LHRH-a sebanyak 3 ug/kg atau ovaprin 0,75 ml/ kg. Untuk jantan menggunnakan LHRH-a sebanyak 2 ug/kg atau ovaprin 0,5 ml/kg. LHRH-a dilarutkan dalam larutan 0,7 % NaCl. o Induk betina di suntik dua kali dengan selang waktu 8 - 12 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 bagian dari dosis total dan penyuntikan kedua 2/3 nya. o Induk yang sudah disuntik dimasukkan kedalam happa pemijahan yang dipasang dalam bak pemijahan. Selama pemijahan air harus tetap mengalir. Pemijahan biasanya terjadi 3 s/d 6 jam setelah penyuntikan kedua. C. Penetasan Setelah memijah telur-telur diambil menggunakan scope net halus, kemudian telur tersebut ditetaskan di dalam akuarium yang telah dilengkapin dengan aerasi dan water heater dengan suhu 27s/d 29 0C. Kepadatan telur antara 100 s/d 150 butir/liter, biasanya telur-telur akan menetas dalam waktu 16 jam s/d 24 jam. D. Pemeliharaan Larva Larva dipelihara dalam akuarium yang sama, namun sebelumnya ¾ bagian airnya dibuang. Padat penebaran larva 50 s/d 100 ekor/liter larva yang berumur 4 hari di beri pakan berupa naupli Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva ini berlangsung selama 21 hari. Selama pemeliharaan larva, air harus diganti setiap hari 2/3 bagiannya. Setelah berumur 21 hari larva siap ditebar kekolam pendederan. E. Pendederan • kolam harus disiapkan seminggu sebelum penebaran benih. Pendederan dilakukan di kolam yang luasnya 500 s/d 1.000 m2. Persiapan meliputi pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir. • kolam dikapur dengan kapur tohor sebanyak 100 s/d 200 gram/m2 kemudian kolam di pupuk dengan pupuk organic dengan dosis 500 gram/m2. • larva ditebar pada pagi hari dengan kepadatan 50 s/d 100 ekor/m2. • pakan tambahan berupa pellet diberikan setiap hari sebanyak 750 gram/10 ribu ekor larva dan diberikan 3 kali per hari. • Pemeliharaan di kolam pendederan berlangsung selama 21 hari. PENYAKIT Penyakit disebabkan oleh parasit, bakteri dan kapang (jamur). - Parasit “Ich” Atau “White spot“, menyerang ikan apabila suhu air pemeliharaan rendah (dingin), cara mengatasinya yaitu dengan menaikan suhu (dengan water heater) sampai kurang lebih 29 derajat Celcius dan pemberian formalin 25 ppm. - Kapang (jamur) Jamur ini merupakan akibat dari adanya luka yang disebabkan penanganan yang kurang hati-hati. Cara mengatasinya dengan menggunakan Kalium Permanganat (PK) dengan dosis 2 s/d 3 ppm. - Bakteri Streptococus sp. Dan Kurthia sp. Cara mengatasinya yaitu dengan menggunakan anti biotic tetracycline dengan dosis 10 mppm.
BUDIDAYA IKAN GURAMI 15 Mei 2009
Posted by hasanalbana in Tak Berkategori.add a comment
BUDIDAYA IKAN GURAMI
Klasifikasi dan morfologi ikan gurame
Inilah gambaran tentang klasifikasi dan morfologi ikan gurame. Setiap mahluk hidup di dunia ini memiliki tanda-tanda khusus yang tidak dimiliki mahluk lain. Selain itu, setiap mahluk juga dikatagorikan menjadi berbagai golongan, dengan melalui sistematikan atau klasfikasi. Demikian juga dengan ikan gurame.
Seorang ahli bernama Jangkaru (2004) mengklasifikasikan gurame sebagai berikut : Filum : Chordata; Kelas : Pisces; Bangsa : Labirinthici; Sub-bangsa : Anabantoidei; Suku : Anabantidae; Marga : Osphronemus; dan Jenis : Osphronemus gourame
Selain digolongkan melalui klasifikasi, setiap mahluk bisa dibedakan dari tanda-tanda bagian tubuhnya, atau lebih dikenal dengan istilah morfologi. Menurut JANGKARU (2004) gurame mempunyai bentuk badan agak panjang, pipih dan tertutup sisik yang berukuran besar serta terlihat kasar dan kuat. Punggungnya tinggi dan mempunyai sirip perut dengan jari pertama sudah berubah menjadi alat peraba. Gurame jantan yang sudah tua terdapat tonjolan seperti cula. Mulutnya kecil dengan bibir bawah menonjol sedikit dibandingkan bibir atas. Pada jantan bibir bawah relatif tebal.
Gurame memiliki lima buah sirip, yaitu sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip dubur dan sirip ekor. Sirip punggung tidak begitu panjang, atau pendek dan berada hampir di bagian belakang tubuh. Sirip dada kecil berada di belakang tutup insang. Sirip perut juga kecil berada di bawah sirip dada. Sirip ekor berada dibelakang tubuh dengan bentuk bulat. Sedangkan sirip dubur panjang, mulai dari belakang sirip perut hingga pankgal bawah sirip ekor.
Menurut JANGKARU (2004) dalam KRISTIANTO (2005) ujung sirip punggung dan sirip dubur dapat mencapai pangkal ekor, ujung pangkal ekor berbentuk bususr. Pada dasar sirip dada gurame betina terdapat tanda berupa bundaran hitam. Bagian kepala gurame muda berbentuk lancip dan akan menjadi tumpul bila sudah besar. Pada badan gurame muda terdapat garis tegak atau vertikal berwarna hitam berjumlah 7 – 10 buah dan garis-garis tegak ini akan hilang setelah dewasa (ROBERT, 1992).
Badan gurame muda pada umumnya berwarna biru kehitaman dan bagian perut berwarna putih atau kekuningan. Warna tersebut akan berubah menjelang dewasa, yakni pada bagian punggung berwarna kecoklatan dan pada bagian perut berwarna keperakan atau kekuningan. Pada gurame muda terdapat garis tegak berwarna hitam berjumlah 7 – 9 buah, dan garis itu akan menghilang setelah dewasa (JANGKARU, 2004).
Habitat dan penyebaran ikan gurame
Inilah gambaran tentang habitat dan penyebaran ikan gurame. Ikan Gurame adalah ikan asli Indonesia. Karena ukurannya dianggap besar, maka mendapat julukan Indonesia Giant Gorame. Awalnya, ikan gurami banyak ditemukan di Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Tetapi karena sangat digemari masyarakat, maka ikan ini menyebar ke beberapa pelosok tanah air. Bahkan sejak abad 18, ikan gurami sudah diitroduksi ke negara lain, diantaranya Madagaskar, Mauritius, Sycheles, Australia, Srilangka, Suriname, Guyane, Martinique dan Haiti (ROBERT,1992).
Sesuai dengan sejarah perikanan Indonesia yang cukup panjang, ikan gurami juga telah lama dikembangkan secara komersial oleh para pembudidaya, baik yang khusus memelihara gurami atau memelihara dengan jenis ikan lainnya. Bahkan dibeberapa daerah sudah terbentuk sentra-sentra kawasan pengembangan budidaya, sehingga apabila memerlukan benih atau konsumsi dapat dengan mudah mendatanginya.
Beberapa kawasan pembudidaya gurami yang dibilang besar diantaranya di Jawa Barat, yaitu di Bogor, Tasikmalaya, Ciamis, Garut; di Jawa Tengah, yaitu Cilacap, Banyumas, Banjarnegara dan Purbalingga; Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu di Kulonprogo, Bantul dan Sleman; Di Jawa Timur, yaitu Tulungagung, Blitar dan Lumajang, dan propinsi lainnya, yaitu Sumatra Barat, Riau, dan Kalimantan Selatan (SUNARMA, 2004).
Di alam, gurami sangat menyenangi perairan yang tenang, seperti Rawa, Situ, danau dan perairan tenang lainnya. Menurut SARWONO dan SITANGGANG (2000), di sungai yang bearus deras, gurami jarang ditemui. Kehidupan yang menyukai perairan yang bebas arus itu terbukti, ketika gurami sangat mudah dipelihara di kolam-kolam tergenang. Sedangkan Max Weber dan De BEAU FORT dalam The Fishes of The Australian Archipelago mengungkapkan bahwa gurami dapat menyesuaikan diri pada perairan yang agak payau dan agak asin. Kegiatan ini banyak dilakukan di Cengkareng, Kamal, dan Tegal Alur di Wilayah Jakarta Barat.
DJARIJAH dan PUSPOWARDOYO (1992) mengungkapkan gurami umumnya hidup dan banyak dipelihara di perairan tawar, terutama pada perairan yang tenang dan dalam. Gurami dapat tumbuh dan berkembang pada perairan tropis dan subtropis. Ikan ini mempunyai daya adaftasi tinggi terhadap lingkungan, tetapi lebih cocok hidup pada ketinggian maksimal 800 m di atas permukaan laut. Selanjutnya keduanya mengatakan, bahwa suhu ideal untuk pertumbuhan gurami antara 24 – 29 O C, derajat keasaman(pH) antara 6,5 – 8, kandungan oksigen terlarut 3 – 5 ppm, dan air yang tidak terlalu keruh dengan kecerahan pada pengukuran alat secchi disk.
Siklus hidup dan perkembangbiakan ikan gurame
Inilah gambaran siklus hidup dan perkembangbiakan ikan guame. Siklus hidup ikan gurame tidak berbeda dengan kebanyakan ikan air tawar lainnya, termasuk dengan siklus hidup ikan mas. Sebut saja siklus ini dimulai dari telur, maka siklus ikan gurami adalah telur, larva, benih, konsumsi, calon induk dan induk. Inilah pendapat para ahli tentang siklus hidup ikan gurami. Pendapat ini mungkin bisa dijadikan sebagai referensi.
Meski siklus hidupnya hampir sama, tetapi sifat hidup ikan gurami dengan sifat hidup ikan mas jauh berbeda. Ini wajar karena habitat kedua ikan itu berbeda, ikan mas berasal dari sungai, sedangkan ikan gurame dari rawa. Perbedaan pertama terjadi pada cara bertelur. Ikan mas bertelur dimana saja, sedangkan ikan gurami bertelur dalam tempat khusus, yaitu dalam sarang.
Proses adaftasi pemijahan ikan mas berlangsung cepat, dalam beberapa jam disatukan segera akan memijah. Sedangkan proses adaftasi pemijahan ikan gurame sangat lama, tidak setelah beberapa jam, tetapi setelah beberapa hari baru memijah. Setelah memijah, ikan mas pergi begitu saja, sedangkan ikan gurami akan merawatnya.
Selain cara bertelur, sifat telur ikan gurami dengan sifat telur ikan mas jauh berbeda. Telur ikan mas bersifat tenggelam dan adhesif. Ketika baru keluar dari induk, sifat adhesifnya langsung muncul, dimana telur-telur ikan mas akan melekat pada benda apa saja yang ada di sekitarnya.
Sedangkan sifat telur ikan gurame tidak tenggelam, serta tidak adhesif. Ketika baru keluar dari induknya, telur ikan gurame tidak akan tenggelam, tetapi akan melayang. Selain itu, telur ikan gurami tidak melekat pada benda-benda. Dari semua itu, siklus yang unik terjadi dari fase telur menuju larva. Karena dalam fase ini terjadi pembentukan hampir semua organ tubuh. Inilah masa kritis dalam kehidupan ikan gurami.
EFFENDIE (1997), mengatakan bahwa pada periode larva, ikan mengalami dua fase perkembangan, yaitu prolarva dan pasca larva. Ciri-ciri prolarva adalah masih adanya kuning telur, tubuh transfaran dengan beberapa pigmen yang belum diketahui fungsinya, serta adanya sirip dada dan sirip ekor walaupun bentuknya belum sempurna. Mulut dan rahang belum berkembang dan ususnya masih merupakan tabung halus, pada saat tersebut makanan didapatkan dari kuning telur yang belum habis terserap. Biasanya larva ikan yang baru menetas berada dalam keadaan terbalik karena kuning telurnya masih mengandung minyak. Gerakan larva hanya terjadi sewaktu-waktu dengan menggerakan ekornya ke kiri dan ke kanan.
Masih kata EFFENDIE (1997), bahwa masa pasca larva ikan ialah masa dari hilangnya kantung kuning telur sampai terbentuk organ-organ baru atau selesainya taraf penyempurnaan organ-organ yang ada. Pada akhir fase tersebut, secara morfologis larva telah memiliki bentuk tubuh hampir seperti induknya. Pada tahap pascalarva ini sirip dorsal (punggung) sudah mulai dapat dibedakan, sudah ada garis bentuk sirip ekor dan anak ikan sudah lebih aktif berenang. Kadang-kadang anak ini memperlihatkan sifat bergerombol walaupun tidak selamanya. Setelah masa pascalarva ini berakhir, ikan akan memasuki masa juvenil.
Menurut SUNARMA (2004), telur gurami akan menetas dalam selang waktu 36 – 48 jam pada padat tebar 4 – 5 butit/cm2 dengan kedalaman air 15 – 20 cm dan pemberian aerasi kecil pada suhu 29 – 30 O C, atau dengan padat tebar 1 – 2 butir/cm2 tanpa pemberian aerasi. Larva ikan gurami yang menetas akan terapung dengan bagian perut berada di sebelah atas. Sedangkan kata SUSANTO (1991), sebagian larva akan menempel pada substrat karena adanya alat penempel yang terletak pada bagaian kepala.
Kuning telur pada gurami akan habis dalam waktu 7 -8 hari setelah menetas. Mulai saat tersebut larva gurami sudah dapat memakan pakan alami yang dilakukan secara bertahap (DJARIJAH dan PUSPOWARDOYO, 1992). Menurut SUNARMA (2004) pakan alami yang dapat diberikan dapat berupa cacing rambut (Tubifex sp.), Daphnia sp., Moina sp., atau pakan alami lainnya yang sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya.
Setelah larva fase kehidupan gurame adalah benih. Fase benih dijalani cukup panjang, karena pertumbuhhan gurami sangat lambat. Karena itu untuk mencapai benih yang siap dipelihara di kolam pembesaran harus melalui beberapa tahap. Menurut SUNARMA (2004) tahapan pendederan pertama dilakukan setelah larva habis kuning telurnya (7 – 9 hari) dengan padat penebaran 8 – 10 ekor/l pada akuarium, 15 – 20 ekor pada air dengan sistem resirkulasi, 250 – 500 ekor/m2 dan 100 ekor/m2 pada kolam tanah.
Selanjutnya SUNARMA (2004) mengatakan bahwa waktu pemeliharaan pada pendederan pertama selama 30 – 40 hari. Selama itu dapat menghasilkan berukuran antara 2,0 – 2,5 cm dengan berat antara 0,3 – 0,4 gram. Tingkat kelangsunga hidup dapat mencapai 80 – 90 persen (dalam wadah terkontrol) atau ukuran antara 1 – 2 cm dengan berat antara 0,2 – 03 gram dengan tinggkat kelangsungan hidup sekitar 60 – 70 persen dalam kolam tanah.
Menurut SUSANTO (2001) gurame mulai berbiak setelah berumur 2 – 3 tahun, yaitu saat dimana induk betina telah matang telur dan induk jantan telah menghasilkan sperma. Induk betina akan mengeluarkan telur dari dalam perutnya ke dalam sarang, yang kemudian diikuti oleh induk jantan dengan menyermprotkan spermanya. Selama pemijahan, sarang dijaga induk jantan. Setelah pemijahan selesai maka gantian induk betina yang menjaganya. Induk betina dapat menghasilkan telur antara 500 – 3.000 butir. Telur besifat mengapung, karena mengandung gelembung minyak.
Kebiasaan makan
Inilah gambaran tentang kebiasaan makan ikan gurame. Secara umum kebiasaan makanan (food habit), ikan dibagi dalam tiga golongan, yaitu ikan pemakan tumbuhan (herbivora), ikan pemakan hewan (carnivora) dan ikan pemakan segala (omnivora). Ikan mas termasuk herbivora atau ikan yang sepanjang hidupnya pemakan tumbuhan. Menurut SUSANTO (2001) gurami adalah mahluk dimana pada saat muda karnivora, sedangkan setelah dewasa herbivora. Karena jenis makanan seperti itulah yang menjadi penghambat pertumbuhan gurame.
SUSANTO (2001), juga mengatakan makan yang sering dimakan ikan gurami remaja dan induk adalah daun keladi (Colocasia estulata Schott), ketela pohon (Manihot utilissima Bohl), pepaya (Carica papaya Linn), ketimun (Cucumis sativus L), genjer (Limnocharis flava Buch), ubi jalar (Ipomoa batatas Lamk), labu (Curcubita moschata Duch en Poir).
Daun pepaya, konon menurut petani gurami di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat tidak baik untuk induk karena bisa merusak kantong telur sehingga sering menggagalkan pemijahan ikan gepeng ini. Demikian juga dengan daun ubi jalar yang juga kurang bagus bagi induk karena kandungan proteinnya rendah, sehingga induk-induk yang diberi daun ini menjadi kurang produktif.
Konon yang paling bagus untuk makanan induk dan remaja adalah daun keladi. Namun tidak boleh langsung diberikan, tetapi harus dilayukan dulu, agar kandungan getahnya yang sering menyebabkan kawanan gurame terserang penyakit cacar bisa berkurang. Sedangkan menurut sebagian besar ahli perikanan, pada awalnya gurame yang telah habis kuning telurnya akan makan imfusoria dan rotifera, yaitu jasad renik yang bisa diperoleh di perairan umum atau mengkulturnya di kolam.
Setelah berumur beberapa hari, benih akan mengincar larva insektatelur semut, larva crustacea. Sehingga gurami tidak hanya sebagai vegetarian sejati, tetapi juga sebagai pemakan hewani (SUSANTO, 2001). Pada umur 10 hari, yaitu fase prolarva makan yolksack; umur 1,5 bulan gurame makan hewani, yaitu rayap, ulat, telur semut merah, ulat, dedak halus, dan kuning telur yang direbus; 1,5 – 3 bulan (2 – 3 cm) gurame makanan hewani, tumbuhan halus, paku air, bungkil halus; 3,5 – 8 bulan (5 –
gurame makan tumbuh-tumbuhan halus, dedak dan pelet; delapan bulan hingga setahun gurami makan pelet, daun-daunan, dan dedak.
Kebiasaan makan ikan gurame
Inilah gambaran tentang kebiasaan makan ikan gurame. Secara umum kebiasaan makanan (food habit), ikan dibagi dalam tiga golongan, yaitu ikan pemakan tumbuhan (herbivora), ikan pemakan hewan (carnivora) dan ikan pemakan segala (omnivora). Ikan mas termasuk herbivora atau ikan yang sepanjang hidupnya pemakan tumbuhan. Menurut SUSANTO (2001) gurami adalah mahluk dimana pada saat muda karnivora, sedangkan setelah dewasa herbivora. Karena jenis makanan seperti itulah yang menjadi penghambat pertumbuhan gurame.
SUSANTO (2001), juga mengatakan makan yang sering dimakan ikan gurami remaja dan induk adalah daun keladi (Colocasia estulata Schott), ketela pohon (Manihot utilissima Bohl), pepaya (Carica papaya Linn), ketimun (Cucumis sativus L), genjer (Limnocharis flava Buch), ubi jalar (Ipomoa batatas Lamk), labu (Curcubita moschata Duch en Poir).
Daun pepaya, konon menurut petani gurami di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat tidak baik untuk induk karena bisa merusak kantong telur sehingga sering menggagalkan pemijahan ikan gepeng ini. Demikian juga dengan daun ubi jalar yang juga kurang bagus bagi induk karena kandungan proteinnya rendah, sehingga induk-induk yang diberi daun ini menjadi kurang produktif.
Konon yang paling bagus untuk makanan induk dan remaja adalah daun keladi. Namun tidak boleh langsung diberikan, tetapi harus dilayukan dulu, agar kandungan getahnya yang sering menyebabkan kawanan gurame terserang penyakit cacar bisa berkurang. Sedangkan menurut sebagian besar ahli perikanan, pada awalnya gurame yang telah habis kuning telurnya akan makan imfusoria dan rotifera, yaitu jasad renik yang bisa diperoleh di perairan umum atau mengkulturnya di kolam.
Setelah berumur beberapa hari, benih akan mengincar larva insektatelur semut, larva crustacea. Sehingga gurami tidak hanya sebagai vegetarian sejati, tetapi juga sebagai pemakan hewani (SUSANTO, 2001). Pada umur 10 hari, yaitu fase prolarva makan yolksack; umur 1,5 bulan gurame makan hewani, yaitu rayap, ulat, telur semut merah, ulat, dedak halus, dan kuning telur yang direbus; 1,5 – 3 bulan (2 – 3 cm) gurame makanan hewani, tumbuhan halus, paku air, bungkil halus; 3,5 – 8 bulan (5 –
gurame makan tumbuh-tumbuhan halus, dedak dan pelet; delapan bulan hingga setahun gurami makan pelet, daun-daunan, dan dedak.
Induk ikan gurame yang baik
Induk jantan dan betina ikan gurame harus baik agar hasilnya baik. Inilah gambarannya. Induk adalah sarana produksi utama dalam budidaya ikan. Dari induk-induk itulah nantinya akan diperoleh anak-anaknya. Seorang pembudidaya gurame sebaiknya memiliki induk sendiri, agar tidak menggantung diri dengan orang lain.
Dengan begitu, seorang pembudidaya dapat menentukan sendiri berapa jumlah produksi yang akan dihasilkan, tanpa harus menunggu orang itu. Lagi pula, bila itu terjadi berarti pembudidaya itu telah memberikan keuntungan kepada orang lain, sedang bila memiliki induk, maka keuntungannya bisa masuk ke kantungnya.
Induk gurami, baik jantan maupun betina harus berkualitas baik. Karena dari induk-induk yang berkualitas baik akan diperoleh benih-benih yang berkualitas baik pula, yaitu benih yang bertubuh normal, tumbuh cepat, dan tahan terhadap perubahan lingkungan serta tahan terhadap serangan penyakit. Berikut tip untuk menentukan kualitas induk, tapi hanya secara fisik saja :
Tanda-tanda induk betina yang baik :
- Berumur cukup dan mulai bertelur pada umur 3 tahun.
- Saat berumur 3 tahun berbobot minimal 2,5 kg.
- Bertubuh normal atau tidak cacat
- Bertubuh gemuk dan proporsional dengan perbandingan antara panjang dan tinggi badan 2,5 : !.
- Bersisik rapi, teratur dan tidak kasar
- Kepala relatif kecil
- Tidak luka
- Sehat
- Respon pada pakan
Tanda-tanda induk jantan yang baik :
- Berumur cukup, muai matang gonad pada umur 2,5 tahun.
- Berumur maksmal 4 tahun.
- Bertubuh normal atau tidak cacat
- Bertubuh gemuk dan proporsional dengan perbandingan antara panjang dan tinggi badan 2,5 : !.
- Bersisik rapi, teratur dan tidak kasar
- Kepala relatif kecil
- Berdagu besar dan tebal. Jantan seperti ini pandai membuat sarang dan pandai memungut telur dan memindahkannya ke dalam sarang.
- Tidak luka
- Sehat
- Respon pada pakan
Membedakan jantan dan betina ikan gurame
Jantan dan betina ikan gurame bisa dibedakan. Inilah cara membedakannya. Beda jantan dan betina setiap hewan dapat dilihat dengan jelas. Tentu saja sebelumnya harus dipelajari terlebih dahulu, yaitu dengan melihat dari dekat tanda-tanda pada tubuh. Bagi pembudidaya lama pasti sudah paham, sehingga membedakannya tidak harus melihat dari dekat, tetapi dari jauh saja sudah cukup.
Seperti hewan lain, ikan gurame dapat dibedakan dari tanda-tanda tubuh bagian luar. Untuk membedakan kedua jenis itu dapat dilihat dari dahi, warna dasar sirip dada, warna dagu. Pada organ tubuh itu jelas sekali perbedaannya. Agar lebih paham, seorang pembudidaya harus mau terjun sendiri untuk membedakannya.
Induk jantan berdahi atau berjidat menonjol, bibir bawah tebal, dasar sirip dadanya berwarna terang keputihan, dan berdagu kuning. Bila diletakan pada tempat datar ekornya naik ke atas. (Sponsor : klik iklan) Sedangkan betina berdahi dempak atau datar, bibir bawah lebih tipis, dasar sirip dada berwarna gelap kehitaman dan berdagu keputihan sedikit coklat. Kemudian bila diletakan di tempat datar ekornya digerak-gerakan.
Membeli induk ikan gurame
Inilah cara membeli induk ikan gurame. Dalam pembenihan, induk menjadi sarana produksi utama. Karena itu sarana produksi ini harus tersedia setiap saat. Bagi pemula, tentu saja untuk mendapatkan induk harus dengan cara membeli dari pihak lain. Namun untuk membeli induk harus hati-hati, tidak boleh sembarangan. Misalnya dengan membeli induk yang tidak jelas asal-usulnya.
Tentu saja harapannya agar mendapatkan induk yang berkualitas baik, karena dari induk yang berkualitas baik akan menurunkan benih yang berkualitas baik pula, dan itu akan menjadi cikal bakal, dan juga penerus pada generasi berikutnya yang baik pula. Jika sembarangan membeli induk, tentu apa yang akan didapat sebaliknya.
Salah satu sumber induk ikan gurame yang bisa dipercaya adalah balai-balai penelitian perikanan. Sumber lainnya adalah balai-balai benih ikan (BBI), dan instansi-instansi terkait lainnya. Karena pada instansi-istansi itu, asal-usul induk lebih jelas, dan cara penyediaannya sudah terprogram dengan jelas pula. Jadi induk dari tempat-tempat itu lebih terjamin kualitasnya.
Namun terkadang ketersediaan induk di tempat-tempat itu sangat terbatas, karena selain harus menyediakan untuk kebutuhan sendiri, juga harus menyediakan untuk kebutuhan pembudidaya yang jumlahnya sangat banyak. Sumber-sumber induk lainnya yang bisa adalah para pembudidaya yang sudah diakui oleh instansi pemerintah atau telah dibina oleh balai-balai penelitian.
Berikut ini beberapa tip buat anda sebagai pemula dalam membeli induk ikan baung dari pembudidaya.
a. Belilah induk patin ketika masih calon induk, yaitu ikan yang masih berukuran 2,5 kg untuk betina, dan 2 kg untuk jantan. Kerena sebelum dipijahkan, induk-induk tersebut harus diadaptasikan terlebih dadulu di lingkungan barunya, agar telur-telutnya berkualitas baik. Oleh sebab itu, induk-induk tersebut harus dibeli tiga bulan sebelumnya. Induk-induk tersebut dipelihara sampai matang gonad, atau hingga siap untuk dipijahkan.
b. Belilah satu jenis kelamin induk patin dari seorang pembudidaya pada suatu tempat. Misalnya jenis kelamin betina saja, sedangkan induk jantan dibeli dari pembudidaya di tempat lain yang berjauhan. Jangan sekali-kali membeli induk jantan dan betina dari satu seorang pembudidaya dari satu tempat.
Karena kemungkinan besar kedua jenis induk itu berasal dari satu keturunan. Bila nantinya kedua jenis induk itu dipijahkan, maka akan terjadi perkawinan dalam, atau inbreeding. Inbreeding dapat berakibat kurang baik, dan dapat menurunkan kualitas genetik, hingga kualitas benih menjadi kurang baik.
Membuat induk ikan gurame
Inilah cara membuat induk ikan gurame. Induk tidak mesti membeli, terutama bagi pembudidaya lama. Karena membeli itu harus dengan uang. Sedangkan uang itu sangat penting buat anda. Akan lebih baik uang itu digunakan untuk keperluan lain, misalnya untuk menambah skala usaha, dan memperluas lahan usaha.
Induk ikan gurame untuk kebutuhan sendiri, bisa diperoleh dari hasil kegiatan sendiri. Sisanya bisa dijual kepada pembudidaya lain. Dengan begtu, anda tidak perlu harus mengeluarkan uang, sebaliknya anda bisa memperoleh keuntungan dari hasil penjualan induk-induk itu.
Bahkan bila induk-induk itu berkualitas baik, anda akan menjadi salah satu penghasil induk nomor satu di daerah anda, dan permintaanpun akan terus meningkat. Dan itu merupakan peluang bagi anda untuk memperoleh keuntungan. Tinggal tergantung anda saja.
Induk dari hasil kegiatan sendiri hanya bisa diperoleh dengan dua cara. Tentu saja, semua itu dilakukan dengan menggunakan induk-induk yang anda punya, atau dengan tidak membeli dari pembudidaya lain. Yaitu induk asal, atau induk yang pertama dibeli dari pihak lain, dan induk dari keturunan induk asal, atau anak-anaknya.
Cara pertama yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan backcross, yaitu dengan mengawinkan antara anak dengan ibunya atau dengan mengawinkan antara anak dengan bapaknya. Inilah cara yang terbaik. Karena kualitas genetiknya (bapak dan ibu) lebih baik.
Bila tidak backcross, bisa juga dengan cara kedua, yaitu dengan mengawinkan antara anak-anaknya, tapi bukan dari satu keturunan. Karena itu, setiap pembudidaya harus memiliki minimal dua kelompok induk yang berbeda garis keturunannya.
Untuk memperoleh induk yang berkualitas baik, baik dari hasil backcross atau dari hasil mengawinkan antara anak dengan anaknya, maka benih hasil kegiatan-kegiatan harus diseleksi, secara ketat atau dipilih benih-benih yang berkualitas baik sesuai dengan tanda-tanda yang telah disarankan, atau sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Seleksi ini dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama dilakukan pada benih hasil pendederan pertama, yaitu dengan memilih benih-benih yang pertumbuhannya paling cepat, dan bentuk tubuhnya normal atau tidak cacat, sehat dan tidak luka, sisiknya tersusun rapi, bertubuh gemuk, atau tidak kurus, kepala relatif kecil, gerakannya lincah dan respon terhadap pakan tambahan.
Tahap kedua dilakukan pada benih hasil pendederan kedua dengan tanda-tanda yang sama seperti yang disebutkan di atas. Tahap ketiga dilakukan pada benih hasil dari pendederan ketiga, dan dengan tanda-tanda yang sama. Demikian seleksi dilakukan terus sampai menjelang calon induk dengan tanda-tangda yang sama. Dengan jalan seperti itu akan didapatkan calon-calon induk yang berkualitas baik.
Dalam mendapatkan calon induk dari hasil kegiatan ini ada sebagian pembudidaya yang ingin mencari mudahnya saja, tanpa memikirkan efek negatif dari semua yang mereka lakukan, yaitu dengan mengawinkan induk jantan dan betina yang berasal dari satu keturunan dari hasil pilihan mereka. Padahal mengawinkan induk-induk dari satu keturunan dapat menyebabkan perkawinan dalam satu keturunan atau lebih dikenal dengan istilah inbreeding.
Inbreeding pada ikan dapat berakibat kurang baik, yaitu menurunnya kualitas benih yang dihasilkan, dimana pertumbuhannya akan semakin lambat, tidak tahan pada perubahan lingkungan dan mudah terserang penyakit. Perlakuan ini bila terus berlanjut dapat berakibat semakin menurunnya kualitas genetik,dan akhirnya bisa hancur.
Ada satu cara mudah untuk menghindari inbreeding, yaitu dengan mengambil salah satu jenis kelamin yang dihasilkan dari kegiatan sendiri, sedangkan jenis kelamin lainnya mengambil dari daerah lain atau saling tukar dengan pembudidaya lain. Misalnya betina berasal dari kegiatan sendiri, sedangkan jantan berasal dari pembudidaya lain, atau sebaliknya.
Atau bisa juga membeli beberapa pasang induk dari daerah lain kemudian salah satu jenis kelaminnya dikawinkan dengan jenis kelamin yang dipunyai atau disilang. Induk betina dari daerah atau pembudidaya lain dikawinkan dengan induk jantan dari dipunyai, atau sebaliknya. Induk-induk tersebut harus ditandai atau perputarannya harus dicatat agar mudah mengontrolnya.
Mengelola induk ikan gurame
Agar hasilnya baik induk ikan gurame harus dikelola. Inilah cara mengelolanya. Induk adalah ikan yang telah matang gonad atau matang kelamin, pada betina telah menghasilkan telur dan jantan telah mengasilkan sperma. Dalam budidaya ikan, induk merupakan sarana produksi utama. Dari induk-induk itulah akan diperoleh anak-anaknya, sebagai sarana produksi utama dalam kegiatan pembesaran.
Seorang pembudidaya ikan sebaiknya memiliki induk sendiri. Dengan begitu, mereka tidak menggantungkan diri kepada orang lain. Artinya mereka bisa memproduksi sendiri kapan saja. Mereka juga dapat menentukan sendiri berapa jumlah benih yang akan dihasilkan sesuai dengan kebutuhannya, tanpa harus menunggu orang itu.
Sudah pasti bagi pembudidaya yang memiliki induk sendiri, benih ikan tidak harus membeli. Karena membeli itu harus pakai uang. Padahal uang itu bisa digunakan untuk memperluas usaha. Dengan tidak membeli benih, maka keuntungan dari benih dapat masuk kantong sendiri. Sedangkan bila membeli, maka keuntungan masuk ke kantong orang lain.
Induk patin gurame, baik jantan maupun betina harus berkualitas baik. Karena dari induk-induk yang berkualitas baik akan diperoleh benih-benih yang berkualitas baik pula, yaitu benih yang bertubuh normal, dapat tumbuh dengan cepat, dan tahan terhadap perubahan lingkungan serta tahan terhadap serangan penyakit.
Bila seorang pembudidaya telah memiliki induk sendiri, maka induk-induk itu harus dikelola dengan baik agar masa produktipnya bisa lama, yaitu minimal 4 tahun, kondidi tubuhnya tetap baik, bisa cepat bertelur lagi, kualitas telurnya baik, dan jumlahnya banyak. Untuk megelola induk dengan dapat dilakukan beberapa perakuan :
Pertama induk-induk itu harus dipelihara dalam kolam-kolam khusus. Artinya pemelihaannya tidak dicampur dengan ikan lain, atau ikan gurame yang berbeda ukuran. Induk gurame yang dipelihara dengan ikan lain tidak baik, karena perkembangan gonadnya bisa tergganggu. Selain itu, bisa menimbulkan kematian, terutama pada saat seleksi.
Kedua, induk jantan dan betina ikan gurame sebaiknya dipelihara terpisah, pada saat masa pengistirahatan, untuk menghindari pemijahan liar. Pemeliharaan jantan dan betina secara terpisah sangat membantu perkembangan gonad, karena induk betina tidak terganggu oleh jantan, karakter ikan dalam satu kolam sama.
Ketiga, induk yang sudah dipijahkan dipelihara di kolam yang berbeda dengan ikan yang belum dipijahkan. Tujuannya untuk memisahkan antara keduanya, sehingga pada waktu seleksi sebelum dipijahkan kita sudah yakin bahwa induk-induk itu belum dipijahkan. Selain itu tentu saja induk sudah dipijahkan tidak terganggu, sehingga gonadnya bisa berkembang dengan baik dan menghasilkan telur yang berkualitas tinggi.
Keempat, teknik pemeliharaan induk harus dilakukan dengan baik. Pertama dengan melakukan persiapan kolam yang baik. Kedua, induk yang ditebar tidak terlalu padat, atau padat tebar induk sesuai dengan yang dianjurkan, yaitu 1 - 2 kg/m2. Ketiga, induk diberi pakan tambahan setiap hari dengan dosis 3 persen berupa pelet khusus gurame dan daun 5 persen daun talas. Dan keempat, selama pemeliharaan kualitas air kolam harus tetap dijaga tetap baik.
Memelihara induk ikan gurame
Inilah cara memelihara induk ikan gurame. Dalam budidaya gurame, banyak orang yang terkecoh dengan istilah pemelihraan induk dan pemijahan. Karena pada prinsipnya keduanya sama-sama melakukan pemeliharaan induk, mulai dari persiapan kolam, padat penebaran hingga kegiatan sehari-harinya. Jenis kolam dan luas kolam yang digunakan juga bisa sama atau dengan menggunakan kolam yang sama.
Yang saya maksud dengan pemeliharaan induk di sini adalah kegiatan memelihara calon induk atau induk baru saja dipijahkan hingga induk-induk tersebut dipijahkan atau dipijahkan kembali. Jelas sekali ada perbedaan antara keduanya. Tujuan pemijahan adalah untuk mendapatkan telur, sedangkan pemeliharaan induk hanya untuk menyiapkan induk agar matang gonad.
Karena pemeliharaan induk bertujuan hanya untuk mendapatkan induk yang matang gonad atau tidak untuk mendapatkan telur, maka jelas dalam kegiatan ini, induk jantan dan betina dipelihara terpisah. Karena bila pemeliharaannya disatukan, akan terjadi pemijahan liar. Gurame termasuk ikan yang mudah memijah secara alami bila keduanya sudah matang gonad.
Kegiatan pemeliharaan induk dimulai dengan persiapan kolam. Kolam yang baru saja dikeringkan dijemur selama minimal 7 hari. Tujuannya selain untuk membunuh penyakit juga untuk memeperbaiki struktur tanah. Setelah tanah agak kering, pematangnya diperbaiki dengan menutup seluruh permukaan pematang dengan tanah dasar. Dengan begitu, kolam terbebas dari bocoran.
Kolam diari dengan menutup lubang pengeluaran dan membukan lubang pemasukan. Namun pengairannya dilakukan setelah pematangnya kering, kalau masih basah bisa terjadi erosi. Kolam pemeliharaan induk harus agak dalam, dengan ketinggian air antara 60 – 70 cm . Ketinggian itu harus dijaga agar fluktuasi air kolam tidak terlalu tinggi dan induk-induk terganggu akibat itu.
Agar tidak stres, induk ditebar pada pagi hari. Karena pada saat itu, suhu air masih rendah. Penebaran pada siang hari kurang baik, karena induk-induk itu bisa stres. Ini disebabkan oleh suhu air kolam dengan suhu dalam wadah angkut atau kolam yang baru saja dipanen sangat jauh. Keadaan tersebut menjadikan tubuh ikan terkena goncangan suhu dan harus menyesuaikan dengan lingkungan barunya.
Pada tebar induk harus sesuai dengan anjuran para ahli, atau saran dari petani yang sudah berpengalaman di daerah anda, tidak boleh terlalu tinggi, dan juga tidak terlalu rendah. Padat tebar yang terlalu tinggi dapat menghambat perkembangan gonad dan padat tebar yang terlalu rendah sangat tidak efisien. Padat tebar yang baik di kolam pemeliharaan induk adalah 1 - 2 ekor/m2.
Pakan tambahan sebaiknya diberikan keesokan harinya. Dalam semalam , induk dibiarkab beradaftasi dengan lingkungan barunya. Selain itu, induk dibiarkan lapar dahulu, sehingga ketikan diberi pakan tambahan, napsu makannya tinggi. Ada tiga hal penting harus diperhatikan dalam pemberian pakan tambahan pada ikan gurame, yaitu jenis pakan, jumlah, waktu dan cara pemberiannya.
Jenis pakan tambahan untuk induk gurame berbeda dengan pakan tambahan untuk induk ikan mas dan nila. Ikan mas dan nila umumnya diberi pakan tambahan berupa pakan buatan, yaitu pellet. Namun untuk induk gurame, pakan tambahan seluruhnya pelet kurang baik. Karena dapat berakibat patal, telurnya kurang baik, lengket dan diselimuti lemak. Keadaan itu menyebabkan daya tetasnya rendah.
Pakan tambahan yang baik untuk induk gurame adalah campuran antara pelet dan daun-daunan. Jenis daun yang baik adalah daun alas. Daun lainnya yang bisa diberikan pada induk gurame adalah daun singkong dan kangkung. Namun daun yang paling baik adalah daunt keladi. Tetapi sebaiknya daun itu dilayukan dulu bebrapa jam, untuk mengurangi getahnya.
Meski jenis daun yang bisa diberikan masih banyak jenisnya, tetapi jangan sekali-kali induk gurame diberi daun papaya. Karena daun ini bisa merusak kantung telur dan bisa menggagalkan pemijahan. (Pesan sponsor : klik iklan) Larangan lainnya adalah, induk gurame jangan diberi daun ubi jalar. Daun itu tidak akan merusak kantung telur, tetapi kandungan gizinya rendah, kurang baik untuk induk gurame.
Untuk menyediakan daun keladi, seorang pembudidaya tidak mungkin harus mengandalkan orang lain, atau dengan mencari ke tempat lain. Yang harus dijalankan adalah seorang pembudidaya harus menyediakan sendiri, yaitu dengan menanam di lahannya, di pematang kolam atau tempat khus. Jumlah yang ditanam tergantung dari kebutuhan. Yang pasti bisa mencukupi kebutuhan sendiri.
Jumlah pakan yang diberikan untuk induk gurame tidak jauh berbeda dengan induk ikan mas dan nila. Umumnya jumlah pakan tambahan untuk kedua ikan tersebut rata-rata 3 persen pelet setiap hari. Tetapi untuk induk gurame, pakan tambahan ini ditambah dengan 5 persen daun talas yang sudah dilayukan Kemudian setiap tiga hari bekatul sebanyak ½ blek untuk 30 ekor induk.
Memijahkan ikan gurame
Inilah cara memijahkan ikan gurame. Agar lebih jelas, kita mulai dari arti. Pemijahan ikan gurame adalah kegiatan menyatukan induk jantan yang sudah matang kelamin dan betina yang sudah matang gonad ke dalam satu kolam. Dengan disatukan keduanya, maka akan terjadi pemijahan. Pemijahan ikan gurame terjadi dengan sendirinya, atau dengan kata lain, ikan gurame akan memijah secara alami, bukan secara buatan.
Agar terjadi pemijahan, maka harus dilakukan persiapan. Persiapan pertama adalah kolam. Pada prinsipnya kolam pemijahan sama dengan kolam pemeliharaan induk, baik kontruksi, ukuran dan persyaratan lainnya. Persiapan kolamnya juga sama, mulai dari pengeringan perbaikan pematang, dan pengisian air. Hanya satu perbedaannya, yaitu pada kolam pemijahan diberi bahan pembuat sarang.
Bahan pembuat sarang ikan gurame bisa berupa ijuk, bisa juga berupa sabuk kelapa. Bila menggunakan ijuk, maka sebelum digunakan, ijuk harus disisir terlebih dahulu, agar bersih. Selain itu harus dipilih ijuk yang halus, agar sarang yang dibuatnya rapi. Demikian juga dengan sabuk kelapa, maka sabuk kelapa juga harus disisir terlebih dahulu. Namun sabuk kelapa itu sudah halus.
Bahan pembuat sarang diletakan pada rak (para) yang telah disiapkan sebelumnya. Rak dibuat dari anyaman belahan bambu yang berjarak 10 cm dan berukuran panjang dan lebar kurang lebih satu meter. Pada tiap sudut diletakan pada empat buah tiang bambu yang ditancapkan pada dasar kolam. Bahan itu diletakan secara menyebar ke seluruh permukaan rak. Jaraknya 10 cm di atas permukaan air.
Setelah bahan pembuat sarang sudah diletakan, persiapan belum selesai. Ada alat lain harus dipasang, yaitu sosog, suatu alat yang dibuat dari bambu berbentuk seperti keranjang sampah berdiameter 20 cm, tapi pada ujungnya bergagang. Sosog akan digunakan oleh ikan gurame sebagai tempat membuat sarang. Sosog dipasang 10 cm di bawah permukaan air. Selain sosog bisa juga keranjang sampah dengan berdiameter sama.
Bila bahan pembuat sarang sudah diletakan dan sosog telah dipasang, berarti persiapan pemijahan sudah selesai. Kalau sudah begitu induk jantan dan betina bisa ditebar. Namun sebelumnya kedua jenis induk harus diseleksi agar induk-induk yang ditebar betul-betul siap. Untuk mengetahui kematangan induk dapat dilihat dari bibir bawah, warna tubuh, bentuk perut, dan gerakannya.
Jantan yang sudah matang berbibir bawah memerah, warna seluruh tubuh juga memerah atu hitam terang, perut membentuk sudut tumpul, bersisik normal dan gerakannya lincah. Sedangkan betina yang matang telur perutnya membesar atau membulat, nampak sedikit benjolan, bersisik agak terbuka atau tidak normal, dan gerakannya lamban.
Penebaran ini dilakukan pagi hari. Karena pada saat itu suhu air masih rendah. Padat tebar induk di kolam pemijahan 1 – 2 ekor/m2, dengan perbandingan antara jantan dan betina 1 : 4. Jadi untuk kolam yang luasnya 20 m2 dapat ditebar induk sebanyak 24 ekor, yang terdiri dari 4 ekor induk jantan dan 20 ekor induk betina.
Selama pemijahan, induk harus diberi pakan tambahan. Tujuannya untuk mendapatkan telur yang berkualitas baik dan jumlah yang banyak. Karena dalam pemijahan ikan gurame tidak hanya untuk sekali pemanenan telur
Proses pemijahan :
Proses pemijahan ikan gurame berbeda dengan proses pemijahan ikan mas. Setelah ditebar, induk ikan mas bisa langsung memijah dan telurnya bisa dilihat. Sedangkan ikan gurame tidak, setelah ditebar, ikan gurame harus beradaptasi terlebih dahulu. Proses ini berjalan cukup lama, bisa sampai 2 minggu. Namun sambil beradaftasi biasanya mereka juga mencari pasangannya.
Setelah mendapatkan pasangan, maka jantan akan membuat sarang, yaitu dengan menarik bahan pembuat sarang, lalu membawanya ke sosog dan meletakannya di sana. Proses itu berlangsung berkali-kali hingga akhirnya sarang itu tersusun dengan rapi, seperti sarang burung tetapi dengan pintu di samping yang masih terbuka. Pembuatan sarang membutuhkan waktu minimal seminggu. Selesai membuat sarang, jantan akan mengajak betina untuk memijah.
Pemijahan dimulai sore hari, dimana suasana sudah tenang, kadang bisa sampai malam. Pada proses itu, induk betina akan mengeluarkan telur dari perutnya dan meletakan telur itu dalam sarang. Pada saat yang bersamaan induk jantan mengeluarkan sperma, hingga akhirnya terjadi pembuahan. (Pesan sponsor klik iklan) Dalam proses itu tidak semua telur mulus masuk ke dalam sarang, ada pula telur yang jatuh. Telur-telur yang jatuh akan dipungut oleh jantan dengan mulutnya dan diletakan kembali dalam sarang.
Selama pemijahan, jantan sangat cekatan. Selain mengeluarkan sperma, memungut telur dari dasar kolam, jantan juga terus menjaga sarang. Bila ada yang mengganggu segera menghalaunya. Setelah telur dari induk betina habis, jantan pun menghentikan spermanya. Selanjutnya jantan menutup pintu sarang, dan pergi. Sedangkan sarang dijaga oleh induk betina, sambil mengibas-ngibaskan siripnya untuk mensuplay oksigen pada telurnya.
Panen telur ikan gurame
Inilah cara panen telur ikan gurame. Kegiatan ini dilakukan setelah pemijahan. Permukaan air berminyak sudah cukup menjadi tanda bahwa ikan gurame sudah memijah. Karena minyak merupakan salah unsur yang terkandung dalah permukaan telur. Tanda lainnya bila masih sangsi adalah dengan melihat lubang pintu sarang. Bila sudah tertutup sudah dipastikan bahwa ikan gurame sudah memijah. Kalau sudah begitu, maka telur sudah bisa diambil.
Pengambilan telur tidak boleh terlambat. Karena kalau terlambat telur akan menetas dalam sarang. Yang akhirnya larva akan berenang keluar dai sarang, lalu menyebar di kolam. Keadaan ini akan sulit menangkapnya. Agar tidak terlambat, maka pengontrolan pada kolam pemijahan harus dilakukan setiap hari. Pekerjaan ini bisa dilakukan sambil memberi makan induk.
Dua hari setelah tanda di atas terlihat, telur diambil dengan cara mengangkat sarang. Pengambilan telur dilakukan pagi hari, saat suhu air masih rendah. Pengambilan disiang hari kurang baik, karena matahari sudah tinggi dan suhu air sudah lebih panas. Keadaan itu bisa menyebabkan telur terkena matahari dan bisa menimbulkan kerusakan pada permukaan telur. Kerusakan itu bisa menurunkan daya tetas telur.
Pengambilan telur juga harus hati-hati, jangan sampai sarangnya rusak. Kerusakan itu bisa menyulitkan dalam menyelamatkan telur, karena telur-telur dapat terpisah dari kumpulannya, lalu keluar dari sarang dan jatuh ke dasar kolam. Agar terjadi, maka saat pengambilan sarang harus dibantu sengan sekup net yang diletakan di bawahnya, sehingga ketika ada telur yang jatuh tertampung dalam sekup net.
Sarang yang sudah diangkat dimasukan dalam ember atau baskom plastik yang sudah diberi air. Sebaiknya air itu berasal dari kolam pemijahan, agar kualitas airnya sama, terutama suhu. (Pesan sponsor klik iklan) Sebaiknya pula ember yang digunakan berwarna gelap, agar telur dapat terlihat dengan jelas. Setiap ember khusus untuk satu sarang. Ember yang sudah berisi telur dibawa ke tempat teduh untuk tindakan selanjutnya.
Di tempat teduh, telur dikeluarkan dari sarangnya. Caranya dengan memisahkan atau menarik sedikit demi sedikit dan mengeluarkan bahan pembuat sarang (ijuk atau sabuk kelapa). Pemisahan telur ini harus hati-hati agar telur tidak pecah, karena gesekan atau tertusuk. Setelah itu, telur juga harus dipisahkan dari lumpur, sampah dan kotoran lainnya agar saat ditetaskan sudah bersih.
Menetaskan telur ikan gurame
Inilah cara menetaskan telur ikan gurame. Kegiatannya dilakukan setelah panen telur. Telur yang sudah terpisah dari sarang, lumpur, sampah dan kotoran lainnya dibawa ke tempat penetasan. Penetasan telur gurame bisa dilakukan dalam paso, baskom plastik besar, bak plastik, akuarium dan tempat sejenis lainnya. Wadah-wadah itu harus diletakan di tempat yang teduh, misalnya samping rumah. Akan lebih baik lagi dalam ruangan, atau kamar agar fluktuasi suhu dapat terjaga.
Wadah-wadah itu harus disiapkan sebelumnya. Paso dan baskom plastik diisi air bersih setinggi 20 cm. Kedua wadah itu tidak perlu diaerasi. Keadaan itu tidak akan menyebabkan telur atau larva kekurangan oksigen. Penetasan juga bisa dalam akuarium. Akuarium yang diberi aerasi kecil, untuk menambah oksigen dan airnya diberi methilin blue dengan warna biru seulas untuk mencegah serangan jamur.
Telur gurame yang terapung dipindahkan ke wadah-wadah penetasan. Pemindahan harus hati-hati agar tidak merusak telur. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan sendok sayur plastik. Saat pemindahan, telur tidak boleh bersentuhan dengan alat, yaitu setiap pemindahan harus dengan menggunakan air, dan dilakukan secara bertahap.
Sambil pemindahan, dilakukan pemisahan antara telur-telur yang berkualitas baik dengan telur-telur yang berkualitas jelek. Keduanya bisa dibedakan dengan melihat warnanya. Telur yang baik berwarna kuning tua, sedangkan telur yang jelek berwarna putih. Telur yang baik dimasukan langsung ke dalam wadah-wadah penetasan, sedangkan yang jelek dibuang.
Pada saat pemindahan dapat juga dilakukan penghitungan telur dengan tujuan untuk mengetahui jumlahnya. Itu yang dilakukan oleh pembudidaya pemula. Tetapi bagi pembudidaya yang sudah lama, terkadang penghitungan itu tidak perlu, karena mereka sudah bisa menebak berapa jumlah itu. Penghitungan telur memerlukan waktu dan tenaga. Selain itu juga berisiko tinggi. Padat tebar telur 2 - 4 butir/cm2.
Selama penetasan, telur-telur yang berkualitas buruk atau tidak menetas harus dibuang, karena bisa mengotori air dalam wadah penetasan. Hingga akhirnya bisa membuat air menjadi bau dan kualitas air menjadi buruk, dimana oksigennya sangat rendah, sedangkan karbondioksida dan NH3 tinggi. Pembuangan telur dilakukan dengan cara penyimponan atau mengalirkan telur lewat selang kecil yang telah diberi air.
Perkembangan telur ikan gurame
Inilah perkembangan telur ikan gurame hingga menjadi larva. Telur ikan gurame akan berkembang dengan sendirinya. Kecepatan perkembangan ini tergantung dari suhu. Dalam suhu rendah, perkembangannya lambat. Dalam suhu lebih tinggi, perkembangannya lebih cepat. Suhu yang baik dalam penetasan telu adalah 28 – 30 O C. Perkembangan telur menjadi larva dapat diamati setiap hari dengan mata telanjang. Atau tidak di bawah mikroskop.
Berikut hasil pengamatannya :
Hari pertama : Telur diambil sarang dan dipisahkan. Telur itu berwarna kuning muda, bening atau mengkilat atau tidak pucat (telur yang baik) dan agak teransparan. Telur-telur itu berdiameter rata-rata 1,2 mm.
Hari kedua : Bentuk sudah mulai berubah, atau mulai sedikit lonjong. Bila diamati lebih dekat terdapah benang halus yang transparan. Tanda itu menandakan telur telah menetas, atau fase lewat telur. Benang halus itu pertanda ekor mulai tumbuh.
Hari ketiga : Ekor sudah lebih jelas dan agak gelap. Pada hari itu kepala mulai terlihat dengan sepasang mata yang berwarna hitam. Pada hari itu juga larva sudah mulai bergerak dengan posisi terbalik atau perut di atas dan punggung di bawah. Posisi itu disebabkan karena kuning telur yang cukup besar.
Hari keempat : Kepala nampak lebih jelas lagi dan matan semakin hitam. Demikian juga dengan ekor, selain hitam juga semakin panjang. Pada hari itu juga, larva bergeral lebih lincah tapi hanya di permukaan air dengan posisi tubuh masih terbalik, tetapi kuning telur sudah mulai berkurang.
Hari kelima : Kepala semakin sempurna dan terlihat dengan jelas dengan kornea mata yang semakin jelas pula. Ekor semakin memangjang dan berwarna hitam, dengan bagian tepinya transparan. Kuning telur tinggal sedikit, terlihat dalam perut. Larva sudah terlihat bisa berenang, tapi bergerak sekitarnya.
Hari keenam : Kepala hampir sempurna dengan kornea mata hitam. Ekor semakin panjang dan hitam. Kuning telur masih terlihat dalam perut. Dalam keadaan yang lebih sempurna ini, larva dapat berenang lebih bebas, tetapi cenderung hanya berkumpul, dan bergerombol di pojok-pojok.
Hari ketujuh : Semua organ tubuh hampir sempurna, mulai dari kepala, badan dan ekor, dengan mata agak kecil dan kornea yang jelas. Badan terlihat jelas dengan perut yang agak teransparan. Pada hari itu, kuning telur hanya setitik saja. Larva terlihat masih di pojok-pojok tapi sudah serng berpindah-pindah.
Hari kedelapan : Larva sudah total sempurna. Seluruh organ tubuh sudah terbentuk, mulai dari kepala, badan, dan ekor, termasuk ke lima sirip-siripnya, yaitu sirip punggung, sisrip dada, sirip perut, sirip anus dan sirip ekor. Kuning telur sudah habis. Larva bisa berenang bebas, tidak hanya di pojok-pojok saja.
Pemeliharaan induk ikan gurame
Pemeliharaan induk gurame dilakukan di kolam tanah.
Caranya :
- siapkan kolam ukuran 50 m2;
- keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam;
- isi air setinggi 50 – 70 cm dan alirkan secara kontinyu;
- masukan 40 ekor induk ukuran 2,5 – 4 kg;
- beri pakan tambahan 2 persen daun talas dan 1 persen pelet gurame setiap hari.
Seleksi induk ikan gurame
Seleksi induk dilakukan setelah pemeliharaan induk atau sebelum pemijahan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh.
Caranya :
- keringkan kolam pemeliharaan induk;
- tangkap induk dengan lambit;
- tampung dalam ember yang telah diberi air;
- tangkap induk dengan kedua tangan;
- lihat tanda-tanda pada tubuh
Tanda induk betina yang matang gonad :
- perut gendut;
- tubuh agak kusam;
- gerakan lamban dan
- lubang kelamin kemerahan.
Tanda induk jantan :
- gerakan lincah,
- tubuh lebih terang dan bercahaya;
- lubang kelamin kemerahan.
Pemijahan ikan gurame dilakukan di kolam tanah. Kolam tersebut harus jauh dari keramaian.
Caranya :
- siapkan kolam ukuran 50 m2;
- perbaiki seluruh bagiannya;
- keringkan selama 3 – 5 hari;
- isi air setinggi 60 cm dan alirkan secara kontinyu;
- pasang 4 buah sosog (sarang terbuat dari bambu atau tempat sampah plastik) di empat sudut kolam;
- masukan 30 ekor induk betina;
- pasang empat buah rak bambu 5 cm di atas permukaan air;
- letakan ijuk atau sabuk kelapa sebagai bahan sarang;
- masukan pula 10 ekor induk jantan;
- ambil sarang sudah berisi telur (biasanya sarang sudah tertutup dengan ijuk atau sabuk kelapa dan air sekitar sarang berminyak);
Penetasan telur ikan gurame dalam akuarium
Penetasan telur ikan gurame dilakukan di akuarium.
Caranya :
- siapkan sebuah akuarium ukuran panjang 80 cm, lebar 60 cm dan tinggi 40 cm;
- keringkan selama 2 hari;
- isi air setinggi 30 cm;
- pasang dua buah titik aerasi dan hidupkan selama penetasan;
- masukan telur dari sebuah sarang yang sudah dibersihkan dari sampah dan telur-telur yang busuk;
- penetasan akan berlangsung selama 10 hari;
- pada hari kelima sebagian airnya dibuang dan diganti dengan air baru;
- panen larva atau benih dengan sekup net dan siap ditebar ke kolam pendederan I.
Penetasan telur ikan gurame dalam baskom plastik
Penetasan telur ikan gurame bisa juga dilakukan di baskom plastik.
Caranya :
- siapkan sebuah baskom plastik besar (volume 50 liter);
- keringkan selama 2 hari;
- isi air setinggi 20 cm;
- masukan telur dari sebuah sarang yang sudah dibersihkan dari sampah dan telur-telur yang busuk;
- penetasan akan berlangsung selama 10 hari;
- pada hari kelima sebagian airnya dibuang dan diganti dengan air baru;
- panen larva atau benih dengan sekup net dan
- benih siap ditebar ke kolam pendederan I.
Pendederan pertama ikan gurame
Pendederan pertama ikan gurame dilakukan di kolam tanah.
Caranya :
- siapkan kolam ukuran 100 m2;
- keringkan 4 – 5 hari;
- perbaiki seluruh bagiannya;
- buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm;
- ratakan tanah dasarnya;
- tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh;
- isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan);
- tebar 10.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari,
- beri 0,5 – 1 tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari;
- panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.
Pendederan dua ikan gurame
Pendederan kedua ikan gurame juga dilakukan di kolam tanah.
Caranya :
- siapkan kolam ukuran 100 m2;
- keringkan 4 – 5 hari;
- perbaiki seluruh bagiannya;
- buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm;
- ratakan tanah dasar kolam;
- tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh;
- isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan);
- tebar 8.000 ekor benih dari pendederan I (telah diseleksi);
- beri 1 - 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari;
- panen benih setelah sebulan.
Pendederan ketiga ikan gurame dilakukan di kolam tanah.
Caranya :
- siapkan kolam ukuran 100 m2;
- keringkan 4 – 5 hari;
- perbaiki seluruh bagiannya;
- buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm;
- ratakan tanah dasarnya;
- tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan);
- tebar 6.000 ekor hasil dari pendederan II (telah diseleksi);
- beri 3 – 5 kg pelet kecil (khusus gurame);
- panen setelah 2 bulan
Pembesaran ikan gurame
Pembesaran ikan gurame dilakukan di kolam tanah.
Caranya :
- siapkan sebuah kolam ukuran 200 m2;
- perbaiki seluruh bagiannya; buat kemalir dengan lebar 40 dan tinggi 10 cm;
- isi air setinggi 40 - 60 cm;
- masukan 1.000 ekor benih hasil seleksi dari pendederan III;
- beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan;
- alirkan air secara kontinyu;
- lakukan panen setelah 3 bulan.
Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi ukuran 0,5 kg sebanyak 400 – 500 kg.
BETERNAK LELE DUMBO CEPAT PANEN 14 Mei 2009
Posted by hasanalbana in BUDI DAYA IKAN.add a comment
|
Budidaya lele dumbo (Clarias gariuphinus) memang agak rumit. Karena ikan ini tidak bisa memijah secara alami seperti nila dan ikan mas. Pemijahan hanya bisa dilakukan secara buatan, atau dengan istilah lain kawin suntik. Meski agak rumit, budidaya lele dumbo telah lama berhasil dikembangkan di Indonesia. Budiadaya lele dumbo dilakukan dalam beberapa tahapan. Pematangan Gonad Pematangan gonad lele dumbo dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 50 m2; keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam; isi air setinggi 50 – 70 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 300 ekor induk ukuran 0,7 – 1,0 kg; beri pakan tambahan berupa pellet khusus lele dumbo sebanyak 3 persen setiap hari. Catatan : induk jantan betina dipelihara terpisah.
PEMATANGAN DIBAK
Pematangan gonad juga bisa dilakukan di bak. Caranya, siapkan bak tembok ukuran panjang 6 m, lebar 4 m dan tinggi 1 m; keringkan selama 2 – 4 hari; isi air setinggi 80 – 100 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 100 ekor induk; beri pakan tambahan (pelet) sebanyak 3 persen/hari. Catatan : induk jantan dan betina dipelihara terpisah.
SELEKSI INDUK
Seleksi induk lele dumbo dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda induk betina yang matang gonad : perut gendut; tubuh agak kusam; gerakan lamban dan lubang kelamin kemerahan. Tanda induk jantan : gerakan lincah, tubuh memerah dan bercahaya; lubang kelamin kemerahan, agak membengkak dan berbintik putih. Pemijahan alami Lele dumbo bisa dipijahkan secara alami. Caranya, siapkan bak berukuran panjang 2 m, lebar 1 m dan tinggi 0,4 m; keringkan selama 2 – 4 hari; isi air setinggi 30 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan; pasang hapa halus sesuai ukuran bak; masukan ijuk secukupnya; masukan 1 ekor induk betina yang sudah matang gonad pada siang atau sore hari; masukan pula 1 ekor induk jantan; biarkan memijah; esok harinya, tangkap kedua induk dan biarkan telur menetas di tempat itu.
PEMIJAHAN BUATAN
Hasil pemijahan alami lele dumbo biasanya kurang memuaskan. Jumlah telur yang keluar tidak banyak. Agar telur bisa seluruhnya, maka dilakukan pemijahan buatan, atau dengan kawin suntik. Sistem ini agak rumit dan memerlukan keahlian khusus. Dua langkah kerja yang harus dilakukan dalam sistem ini, yaitu penyuntikan, pengambilan sperma dan pengeluaran telur. Penyuntikan dengan ovaprim Penyuntikan adalah kegiatan memasukan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang umum digunakan adalah ovaprim. (suplayer ovaprim dll). Caranya, siapkan induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,3 mll ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikan ke dalam tubuh induk tersebut; masukan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 jam.
PENYUNTIKAN DENGAN HYPOPISA
Penyuntikan bisa juga dengan ekstrak kelenjar hypopisa ikan mas atau lele dumbo. Caranya, siapkan induk betina yang sudah matang gonad; siapkan 1,5 kg ikan mas ukuran 0,5 kg; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutu insang; potong bagian kepala secara horizontal tepat di bawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypopisa; masukan ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata; sedot larutan hypopisa itu; suntikan ke dalam tubuh induk betina; masukan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selam 10 jam.
PENGAMBILAN SPERMA
Setengah jam sebelum pengeluaran telur, sperma harus disiapkan. Caranya, tangkap 1 ekor induk jantan yang sudah matang kelamin; potong secara vertikal tepat di belakang tutup insang; keluarkan darahnya; gunting kulit perutnya, mulai dari anus hingga belanag tutup insang; buang organ lain dalam perut; ambil kantung sperma; bersihkan kantung sperma dengan tisu hingga kering; hancurkan kantung sperma dengan cara menggunting bagian yang paling banyak; peras spermanya agar keluar dan masukan ke dalam cangkir yang telah diisi 50 ml (setengah gelas) aquabides; aduk hingga homogen.
PENGELUARAN TELUR
Pengeluaran telur dilakukan setelah 10 jam dari penyuntikan, namun 9 jam sebelumnya dilakukan pengecekan. Cara pengeluaran telur : siapkan 3 buah baskom plastik, sebotol Natrium chlorida (inpus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu; tangkap induk dengan sekup net; keringkan tubuh induk dengan lap; bungkus induk dengan lap dan biarkan lubang telur terbuka; pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yang lainnya; pijit bagian perut ke arah lubang telur; tampung telur dalam baskom plastik; campurkan larutan sperma ke dalam telur; aduk hingga rata dengan bulu ayam; tambahkan Natrium chrorida dan aduk hingga rata; buang cairan itu agar telur-telur bersih dari darah; telur siap ditetaskan.
PENETASAN
Penetasan telur lele dumbo dilakukan dalam bak tembok. Caranya, siapkan sebuah bak tembok ukuran panjang 2 m, lebar 1 m dan tinggi 0,4 m; keringkan selama 2 – 4 hari; isi bak tersebut dengan air setinggi 30 cm dan biarkan alirkan air selama penetasan; pasang hapa halus yang ukurannya sama dengan bak; beri pemberat agar hapa tenggelam (misalnya kawat behel yang diberi selang atau apa saja); tebarkan telur hingga merata ke seluruh permukaan hapa; biarkan telur menetas dalam 2 – 3 hari.
PENDEDERAN I
Pendederan pertama dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 - 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 50.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.
PENDEDERAN II
Pendederan kedua juga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasar; tebarkan 5 - 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 30.000 ekor benih hasil pendederan I (telah diseleksi); beri 2 – 4 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur sebulan.
PENDEDERAN III
Pendederan ketiga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 20.000 ekor hasil dari pendederan II (telah diseleksi); beri 4 - 6 kg pelet kecil (khusus lele); panen benih dilakukan sebulan kemudian.
PEMBESARAN
Pembesaran lele dumbo dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran 200 m2; perbaiki seluruh bagiannya; tebarkan 4 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 - 60 cm dan rendam selama 5 hari; masukan 10.000 ekor benih hasil seleksi dari pendederan III; beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu; lakukan panen setelah 2 bulan. Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi ukuran 125 gram sebanyak 400 – 500 kg. |